Teknologi Satelit bagi Indonesia

Author: Hagorly M. Hutasuhut

shadow

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari kurang lebih 17.850 pulau, memiliki garis pantai 54.716 km, memiliki luas daratan 1.922.570 km², memiliki luas lautan 3.257.483 km², dan memiliki jumlah penduduk lebih dari 238 juta jiwa. Kondisi negara Indonesia yang terdiri dari banyak pulau atau yang biasa disebut archipelago country menjadi alasan utama mengapa satelit begitu dibutuhkan dan strategis bagi negara Indonesia.

Karena wilayah yang demikian luas dan strategis tersebut, sudah selayaknya Indonesia membutuhkan banyak infrastruktur satelit, baik untuk proses pengamatan bumi menggunakan satelit pengindraan jauh, satelit mata-mata untuk pengamatan objek, keamanan laut serta pertahanan, dan kebutuhan komunikasi tentunya.

Perkembangan teknologi satelit pertamakali dimulai sejak meluncurnya satelit Sputnik di tahun 1957 oleh Soviet Union dan menandakan dimulainya era Space-race antara blok timur Soviet dengen barat barat Amerika Serikat. Sehingga teknologi satelit dahulu hanya dikenal sebagai teknologi untuk tujuan militer, didukung oleh pemerintah dengan dana yang besar, dan memiliki dampak prestise bagi negara yang berhasil menguasai teknologinya.

Namun setelah dimulainya era teknologi informasi (information age) ketika munculnya teknologi personal computer, teknologi satelit kemudian berperan penting untuk menyambungkan infrastruktur komunikasi dunia. Sabungan nirkabel via satelit pertamakali dilakukan antara Amerika dengan Prancis di tahun 1962 dan menandakan dimulainya era satelit bagi komunikasi sambungan jarak jauh. Pemanfaatan satelit bagi komunikasi sangat didominasi oleh penggunaan orbit geostasioner. Dengan memanfaatkan orbit tersebut satelit diluncurkan ke ketinggian sekitar 37000 km sehingga posisi relatif satelit dengan permukaan bumi menjadi konstan akibat samanya periode satelit mengitari bumi dengan putaran rotasi bumi. Kemudian berkembang pula satelit di ketinggian orbit rendah untuk berbagai macam keperluan seperti pemantauan wilayah, militer, dan cuaca. Tetapi teknologi satelit tersebut dibutuhkan biaya yang sangat besar dan hanya didorong oleh pendaanan oleh pemerintah dan hanya memiliki tujuan riset semata.

Pada tahun 2002, muncul lah teknologi CubeSat (nanosatellite) yang digagas oleh Stanford Univ dan CalPoly, Amerika Serikat dengan tujuan awal agar mahasiswa mereka yang mendalami ilmu pengetahuan dirgantara dapat melakukan praktek langsung dalam rancang bangun satelit. Kemudian teknologi tersebut menjadi standar bagi rancang bangun satelit yang berukuran kecil dengan standar 1U untuk ukuran 10 cm x 10 cm x 10 cm. Satelit CubeSat kini menjadi semakin populer bagi berbagai belahan dunia khususnya di civitas akademia. Sekaligus karena terstandarisasi maka mendorong terciptanya industri dengan memanfaatkan kompunen industri dengan biaya yang terjangkau dan teknologi tersebut kemudian mengakselerasi teknologi antariksa yang dahulu dikenal mahal dan membutuhkan waktu yang lama dalam hal pengembangan.

Perkembangan teknologi satelit di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak Februari 1975, proyek satelit yang diberi nama Palapa ini pertama kali dipelopori  oleh Alm, Prof Dr Iskandar Alisjahbana. Program Satelit Palapa yang mulai beroperasi sejak tahun 1976 telah menempatkan Indonesia menjadi negara ketiga di dunia yang menggunakan teknologi satelit untuk keperluan komunikasi. Setelah itu dari tahun 1975 hingga 2008 Indonesia telah memiliki satelit komunikasi sebanyak sembilan buah, mulai dari Palapa-A1 hingga C2.

Namun sangat disayangkan kebutuhan akan teknologi satelit ini tidak dibarengi oleh kemampuan indonesia untuk dapat mandiri di teknologi yang amat strategis ini. Maka perlu dilakukan akselerasi dan transfer teknologi yang cepat sehingga Indonesia memiliki kemampuan secara utuh dalam penguasaan teknologi dirgantara khususnya mengenai teknologi antariksa.

Untuk dapat menjawab kebutuhan teknologi tersebut, penulis,Hagorly Mohamad Hutasuhut, dari jurusan Aeronotika dan Astronotika ITB, bersama Bagus Adiwiluhung Riwanto dari Teknik Elektro ITB dengan dosen pembimbing Dr. Rianto Adhy Sasongko dan Dr. Ridanto Eko Poetro membuat paper yang berjudul "HIL Simulation of Spin Stabilized Spacecraft Dynamics by Two Degree of Freedom Gyroscope Simulator" yang kemudian dipresentasikan di International Astronautical Congress (IAC) 2012. 

Paper tersebut membahas pengembangan awal simulator sistem dinamika benda kaku dengan menggunakan konfigurasi giroskop yang memiliki fungsi untuk menganalisis mengenai kestabilan dinamik suatu benda kaku yang berputar. Sebagai gambaran untuk dapat menstabilkan satelit dibutuhkan metode kendali yang memadai untuk melaksanakan misinya seperti satelit pengindraan jauh untuk pengambilan gambar dibutuhkan metode pengendalian dengan keakuratan yang cukup tinggi sehingga satelit dapat mengambil gambar wilayah yang diinginkan, selain itu satelit komunikasi untuk kebutuhan komunikasi dibutuhkan metode pengendalian yang akurat agar tetap steady pada posisinya di orbit. Salah satu metode yang dapat digunakan yaitu metode kestabilan putar yang memanfaatkan efek giroskopik dari suatu benda yang berputar sehingga diharapkan satelit tetap dapat stabil pada posisinya di orbit. Sebab kenyataannya di antariksa satelit yang sedang mengorbit bumi akan mengalami yang namanya torsi gangguan akibat gaya-gaya eksternal seperti gaya aerodinamik pada satelit dengan ketinggian rendah, gaya gravitasi yang tidak seimbang akibat ketidakseragamannya distribusi massa bumi, gaya tarik dari benda langit seperti bulan, radiasi matahari, dan lain sebagainya sehingga dibutuhkan metode yang dapat “menangkal” gangguan tersebut. Selain satelit aplikasinya juga bisa digunakan untuk menstabilkan roket bahkan benda proyektil seperti peluru senapan yang tentunya berguna untuk pertahanan indonesia. Jika roket atau benda proyektil dapat distabilkan contohnya menggunakan metode kestabilan putar maka akan dapat mencapai sasaran yang diinginkan. Selain itu aplikasi turunannya seperti penstabil kamera untuk pengamatan udara, alat giroskop untuk mengindra putaran di tiga sumbu benda, dan lain lain.

Untuk sedikit tambahan mungkin banyak anggapan masyarakat luas bahwa teknologi dirgantara khususnya mengenai satelit ini belum saatnya atau cocok diaplikasikan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun kenyataannya ketika kami berada di konferensi IAC di Itali kami diundang resepsi jamuan makan malam oleh Thailand dan mereka memperlihatkan kami aplikasi satelit untuk pemantauan dan pemetaan bagi kebutuhan pertanian dan perkebunan mereka, selain itu untuk pemantauan bencana alam, dan lain sebagainya.

Sebagai penutup penulis sangat mengharapkan masyarakat Indonesia pada umumnya semakin aware bahwa Indonesia itu negara yang sangat luas memiliki banyak potensi alam yang luar biasa yang tentunya perlu kita awasi dan kita jaga. Salah satu solusi untuk dapat memantau dan menjaga wilayah kita yang amat luas ini ialah menggunakan teknologi dirgantara khususnya satelit

Related

There is no related article.