Dari bencana menjadi kencana: Studi kasus kota pesisir Lymington, Inggris.

Author: Ing. M. Gibran, S.T., M.Sc. (Coastal and Environmental Engineering, National Oceanography Centre, University of Southampton, the UK)

shadow

Kota tua nan cantik Lymington yang terletak di pesisir Hampshire ini dilalui oleh Sungai Lymington yang mengalir dari daratan menuju British Channel. Daerah ini sangat terkenal akan industri pariwisata, industri garam tradisional, desa wisata, kuliner, peninggalan arsitektur masa Victoria dan Georgia, dan juga biota pesisirnya. Posisinya yang strategis telah menjadikan kota pesisir ini ramai dilalui yacht, boat, dan kapal-kapal besar; tak heran bahwa bisnis marina dan perkapalan (yachting centre) di muara Lymington sangat berkembang pesat hingga akhirnya kota ini menjadi spot favorit para wisatawan eropa yang hobi berlayar. Sebuah kawasan unik nan kaya khasanah membuat kota ini bak kencana (emas) di Inggris bagian selatan.

Lokasi strategis Lymington

 

Namun pada masa lalunya, Lymington adalah kota yang sering dilanda bencana; pasalnya, posisi yang dilalui sungai besar ini membuat kota ini rawan akan bencana banjir. Dilihat secara topografi, sebagian besar tanah Lymington berada pada elevasi sekitar 2m di atas mean sea level (MSL). Elevasi yang lebih rendah dari 2m (MSL) dikategorikan sebagai wilayah resiko banjir terutama disekitar sungai dan bibir pantai; dimana pada kondisi ekstrim, ketinggian air dapat merendam penuh rumah penduduk. Apabila hujan terjadi pada saat air laut pasang, maka air muara akan meluap dan merendam seluruh kota. Seperti halnya yang terjadi pada tahun 1909, 1954, 1989, dan 1999, banjir hebat telah menenggelamkan rumah-rumah penduduk, menghancurkan tanggul-tanggul penahan banjir; hal ini telah menghambat kegiatan perekonomian penduduk. Tak luput juga, ladang-ladang garam serta timbunan limbah (landfill) yang juga ikut terendam air banjir membuat kerugian semakin terasa. Adanya fenomena sea level rise akan membuat frekuensi gelombang besar dan hujan lebat akan lebih sering terjadi.

Sungai Lymington dan pemetaan genangan banjir pesisir menggunakan ArcGIS. (source: Gibran)

 

Merespon tantangan alam ini, pemerintah Kota Lymington telah bekerjasama dengan berbagai instansi seperti akademisi-akademisi yang ahli dibidangnya, para investor atau perbankan sebagai sumber pendanaan, environmental agency, serta komunitas masyarakat setempat untuk mencari solusi terbaik. Adapun tahap pencarian solusi dapat dilihat pada skema berikut.

Kejadian – pengumpulan data – pemetaan banjir – kalkulasi volume banjir – klasifikasi penyebab banjir – solusi tepat sasaran

Kenjadian banjir pesisir ini merupakan fenomena alam yang disebabkan oleh hujan lebat, air pasang, hempasan gelombang, ataupun kombinasi dari ketiganya. Pendokumentasian fakta sejarah-kejadian sangatlah penting karena merupakan kunci untuk penentuan langkah penanggulangan. Pengumpulan data melingkupi data hujan, topografi, foto udara, lokasi kejadian, data penggunaan lahan, data sosial-kependudukan, dan lain-lain. 

Contoh pencatatan data hujan, elevasi muka air sungai dan pasang-surut muka air laut.

Pemetaan banjir diperlukan untuk mengetahui luas dan kedalaman genangan banjir; serta, memprediksi lokasi lain yang berpotensi terjadi banjir pada kondisi ekstrim. Selain itu pemetaan banjir dapat berguna untuk klasifikasi wilayah, seperti: kawasan hunian, area industri, daerah lindung biota, dan lain-lain. Pementaan banjir dapat dilakukan dengan berbagai teknologi terkini seperti penggunaan perangkat lunak ArcGIS, pengkajian foto udara (aerial image), interpretasi data satelit, dan lain sebagainya.

Kalkulasi dan prediksi volume banjir dapat dilakukan dengan program komputer HEC-RAS dan MIKE by DHI. Klasifikasi penyebab banjir dapat beraneka ragam, dari faktor topografi, ketinggian air tanah, curah hujan, ketinggian gelombang pasang, ataupun sistem drainasi yang tidak bekerja dengan baik. Dengan memahami semua hal tersebut, maka solusi yang diambil merupakan solusi yang sustainable, efisien dan tepat sasaran.

Rekonstruksi banjir Lymington tahun 1999 serta kalkulasi volume banjir menggunakan perangkat lunak HEC-RAS.

 

Pemerintah Kota Lymington telah mengusahakan beberapa rekayasa engineering dan peraturan tata kota agar kondisi ekstrim elevasi air muara tidak menjadi bencana bagi penduduk. Diantaranya adalah:

  1. Penambahan tinggi elevasi tanggul-tanggul lama.

Tinggi tanggul atau seawall disesuaikan dengan prediksi kondisi ekstrim yang merespon fenomena sea level rise. Dengan prediksi yang tepat, tanggul ini dapat berfungsi dalam rentang waktu yang lama. Pembuatan tanggul-tanggul penahan banjir yang baru juga diperlukan untuk melindungi daerah yang bernilai tinggi, seperti: kawasan real-estate atau kawasan tourist attraction baru.

Sea defence wall (tanggul) di dekat Yacht Club, Lymington. Pada foto tersebut tinggi permukaan air telah mencapai ketinggian tanah permukaan. Apabila tidak dilindungi tanggul, maka air pelabuhan dapat menggenangi jalur pejalan kaki (source: Ian West, 2008).

 

  1. Pembuatan bangunan penahan tebing.

Penahan tebing dimaksudkan untuk mengurangi erosi tebing akibat hempasan gelombang pantai atau derasnya arus tepi sungai saat kondisi ekstrim. Apabila tidak ada bangunan penahan tebing, maka tanah kota ini terkikis hilang setiap terjadi banjir pesisir. Bangunan penahan tebing dapat berupa revetment wall, seawall, maupun bronjong. 

  1. Pembuatan tanggul dan dike.

Tanggul atau dike dibuat agar air laut tau sungai tidak meluap hingga ke daratan. Pada kasus dimana tinggi air laut atau air sungai melebihi tinggi elevasi tanah maka mutlak diperlukan tanggul agar air tersebut tidak meluap hingga ke darat. Tanggul biasa dibuat untuk melindungi kawasan yang relative luas, seperti: kawasan pertanian, ladang-ladang garam, daerah konservasi biota pantai, kawasan pemukiman, kawasan penimbunan sampah (landfill), dan lain sebagainya.

  1. Menjaga elevasi muka air tanah.

Eksplorasi air tanah yang berlebihan, untuk keperluan rumah tangga maupun industri, akan membuat elevasi permukaan tanah turun; terkadang, hal ini menyebabkan permukaan air sungai atau air laut menjadi lebih tinggi dari permukaan tanah. Akibatnya, pada kondisi tertentu air sungai atau air laut dapat meluap menggenangi area tersebut. Di Inggris dan Belanda, kanal-kanal sengaja dibuat melintasi kota untuk menjaga ketinggian muka air tanah dan tinggi muka tanah disekitar wilayah tersebut. Ketinggian muka airnya diatur sedemikian rupa dengan menggunakan pintu air dan pompa air kota.

  1. Perbaikan drainasi kota. 

Drainasi yang baik adalah drainasi yang dapat mengalirkan air hujan di catchment area (run-off) dengan cepat. Apabila kapasitas drainasi tidak sebaik yang diharapkan maka yang terjadi adalah genangan atau banjir. Karena itu, menambah kapasitas saluran drainasi beserta pintu air dan pompa air kota adalah persyaratan mutlak agar genangan tidak terjadi.

  1. Pembuatan tidal-gate.

Tidal-gate adalah pintu air yang biasa dipasang pada kanal, sungai, atau saluran air menuju muara yang merespon secara otomatis pasang-surut air laut. Pada saat tinggi air laut melebihi tinggi air sungai, maka pintu air akan menutup dengan sendirinya; dan sebaliknya apabila tinggi air sungai melebihi tinggi air laut maka pintu air ini akan terbuka kembali. Penggunaan tidal-gate di Inggris cukup populer untuk mencegah banjir sungai; namun, instrumen ini memiliki batasan kapasitas. Pada kondisi sangat ekstrim dimana kedua permukaan air laut maupun sungai sama tinggi, penggunaan tidal-gate perlu dibantu dengan pompa air untuk mengalirkan air dari sungai ke laut.

The Road Bridge and the tidal gates of the Lymington River (Solomon, D.J., 2010).

  1. Pembebasan lahan.

Kondisi banjir mengakibatkan area-area tertentu menjadi sasaran bencana dan dikategorikan sebagai area berbahaya. Misalnya, karena adanya banjir maka kawasan tersebut tidak dapat dihuni karena hempasan air dapat merenggut korban jiwa, selain itu banjir juga dapat menyebarluaskan limbah kimia, bakteri e-coli, dan lain-lain yang bersifat toxic bagi manusia. Karena itu pembebasan lahan diperlukan untuk melindungi keselamatan penduduk.

  1. Pengklasifikasian Area.

Selain pembebasan lahan, pengklasifikasian area sangat diperlukan untuk kenyamanan tinggal, kelancaran kegiatan perekonomian penduduk, serta upaya perlindungan ekosistem. Misalnya, dilihat dari jenis penggunaan lahan kota Lymington dikategorikan kedalam beberapa macam kawasan, seperti: kawasan berbahaya (terlarang) untuk pemukiman atau industri, kawasan lindung saltmarsh dan biota pantai lain, kawasan khusus pemukiman, kawasan ruang hijau, kawasan khusus bisnis, dan lain sebagainya. Disini dituntut peran pemerintah serta kerjasama masyarakat demi tercapainya kenyamanan bersama.

Interpretasi foto udara habitat pantai disepanjang pantai Lymington tahun 2005. (Peta oleh M. Gibran)

Solusi-solusi teknis dan non-teknis tersebut secara spesifik dipilih untuk mengubah Lymington dari kota yang penuh bencana menjadi kota kencana yang sustainable di Inggris bagian selatan. Regulasi dan kerjasama masyarakat memainkan peranan penting untuk bisa mempertahankan kota ini sebagai spot paling favorit untuk wisatawan domestik maupun mancanegara.

Metode yang sama agaknya dapat diterapkan di Indonesia untuk mengubah kondisi kota-kota pesisir yang kurang tertata serta penuh masalah agar menjadi kota yang sustainable dan efficient, tentunya dengan mempertahankan ciri khas kedaerahan serta lingkungan hidup pesisir.

Related