Teknologi “Device to Device Communication” Untuk Indonesia Nol Korban Bencana

Author: Satria Hardinata, S.ST. (Master of Communication System Engineering, Pierre and Marie Curie University, France)

shadow

Negara Indonesia terletak diantara benua Asia dan Australia dan diantara Lautan Hindia dan Pasifik ini memiliki 17.508 pulau. Wilayah Indonesia merupakan gugusan kepulauan terbesar di dunia. Meskipun tersimpan kekayaan alam dan keindahan pulau-pulau yang luar biasa, bangsa Indonesia perlu menyadari bahwa wilayah nusantara ini memiliki 129 gunung api aktif, sehingga menjadi bagian dari ring of fire. Hal ini diperkuat dengan letak Indonesia pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia yakni Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Indonesia kini mengemban status salah satu daerah rawan bencana di Dunia. Mulai dari banjir, tanah longsor, hingga gempa dan tsunami. Masing-masing bencana sudah dipastikan menelan korban jiwa. Berdasarkan data statistik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia tahun 2013, bencana yang paling sering terjadi di Indonesia adalah Banjir dengan angka 4000 kejadian, disusul dengan bencana puting beliung dan tanah longsor dengan masing-masing 2000 tragedi. Namun, justru bencana dengan angka kejadian rendahlah yang memakan korban jiwa paling tinggi, seperti gempa bumi dan tsunami dengan korban mencapai 170.000 jiwa.

Bagaimanapun, komunikasi menjadi salah satu komponen penting dalam pra hingga mitigasi bencana. Banyak korban jiwa bejatuhan akibat tak mampunya mereka menjalin komunikasi guna menyelamatkan diri sendiri maupun orang lain. Sebagai daerah rawan bencana, pemerintah Indonesia mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam memberikan Layanan Telekomunikasi Darurat (LTD).

Layanan komunikasi bencana alam pun tidak hanya ada di tingkat birokrasi atau pemerintah, namun juga masyarakat. Masyarakat duduk sebagai prioritas pertama yang harus diselamatkan pada saat bencana. Data pada salah satu perusahaan operator telekomunikasi di Indonesia menunjukkan bahwa lalu lintas komunikasi selular yang dilakukan dengan handphone (HP) meningkat pesat. Mulai dari layanan SMS, panggilan telepon, hingga akses internet, semuanya naik hingga mencapai 280% (salah satu contoh kasus bencana erupsi Gunung Kelud 2014).

Lonjakan trafik yang tidak didukung dengan kapasitas yang baik ini memicu lambatnya persebaran data komunikasi yang mengakibatkan terjadinya putusnya telepon, akses internet yang lambat, atau bahkan SMS yang pending. Tak terbayang, dalam kondisi darurat, semua layanan yang harusnya bisa menjadi akses pertolongan pertama korban itu justru akhirnya tidak dapat diandalkan.

Di Indonesia, telah muncul layanan seluler generasi ke empat atau kita sebut dengan 4G-LTE (Long Term Evolution). 4G-LTE hadir menjawab kebutuhan manusia akan akses data dengan kecepatan tinggi. Menurut data Kementrian Komunikasi dan Informatika RI dalam peraturan distribusi frekuensi 2015, layanan ini pun hadir di Indonesia pada tahun 2015 ini dan akan beroperasi pada frekuensi 900/1800/2100 MHz. Agar match dengan frekuensi ini, maka provider HP akan berlomba-lomba mengeluarkan produk handphone baru yang support layanan 4G-LTE.

Setelah 4G-LTE muncul, maka teknologi selanjutnya sudah mulai digodok. Adalah teknologi 4G LTE Advanced, yang merupakan pengembangan lanjutan dari teknologi LTE yang memungkinkan jaringan memiliki pencapaian coverage area yang lebih besar, lebih stabil dan lebih cepat. Teknologi ini kerap kali disebut dengan 4G+. Layanan 4G+ ini menawarkan kecepatan akses 100-300 Mbps.

4G+ memiliki desain jaringan komunikasi yang baik dalam implementasi Layanan Telekomunikasi Darurat, mengingat kapasitas trafik yang tinggi mampu mengatasi lonjakan trafik pada saat bencana terjadi. Dimitris Tsolkas, dalam karya tulis nya yang berjudul LTE-A Access, Core and Protocol Architecture for D2D Communication (2014) menyebutkan bahwa teknologi 4G+ mematahkan fakta tentang ketergantungan yang kuat antara HP dengan BTS, dengan adanya teknologi Device-to-Device (D2D).

D2D memungkinkan koneksi komunikasi antar HP untuk berkomunikasi secara langsung tanpa menyedot pulsa. Ini bukan juga seperti instant messenger seperti Line, WhatsApp yang memuat delay dalam komunikasi suaranya. Berbeda juga dengan layanan komunikasi antar device yang telah ada seperti Bluetooth atau WiFi, yang tergantung pada jarak. Teknologi D2D benar-benar memungkinkan pengguna untuk melakukan panggilan telepon dengan kualitas setara panggilan umum, namun juga tidak memakan biaya; seperti HandyTalky, tapi malah memungkinkan komunikasi pada jarak yang lebih jauh; seperti komunikasi instant messenger, tapi tidak memberikan delay sedikitpun. Koneksi terputus? Tidak mungkin. 4G+ memberikan coverage dan kapasitas akses yang jauh lebih besar dari 4G biasa, mampu menampung hingga ribuan user. Semuanya dilakukan hanya dalam genggaman.

Dalam Release-12 nya, 3GPP juga telah memberikan pertimbangan untuk menggunakan sistem komunikasi D2D sebagai infrastruktur baru untuk Layanan Telekomunikasi Darurat. Hal ini sangat membantu pengguna, mengingat bahwa resiko kerusakan hubungan komunikasi antara semua komponen telekomunikasi tidak bisa dihindarkan pada saat bencana alam.

Konsep teknologi ini baru di implementasikan di negara Korea Selatan dan juga Jepang. Bisakah anda bayangkan bila teknologi ini masuk ke Indonesia? Pemerintah hanya perlu ‘mengutik’ sedikit regulasinya demi meningkatkan pelayanan keselamatan publik di sektor Telekomunikasi guna menuju Indonesia Nol Korban Bencana.

 

Related