Seaquakes: Dampaknya pada Ekosistem Pesisir dan Mamalia Laut

Author: Muhammad Ichsan (Master Program Conservation Biology, University of Queensland) and Jaya Kelvin (BSc in Marine Science, Universitas Padjadjaran)

shadow

Pada tahun 2004, tepatnya pada hari minggu tanggal 26 Desember, Indonesia harus kembali menorehkan tinta hitam setelah pesisir barat Sumatera Utara diporak-porandakan oleh tsunami. Gempabumi dengan kekuatan mencapai 9,3 Skala Richter (SR) membangkitkan tsunami dengan ketinggian maksimum 20 meter dan menghantam daratan sejauh 3 km. Jumlah korban yang meninggal dunia pun menjadi catatan yang sangat buruk bagi Indonesia dan dunia, yaitu mencapai 126.000 korban jiwa dan lebih dari 600.000 orang kehilangan tempat tinggal serta mata pencahariannya. Peristiwa yang mengenaskan ini tentu memerlukan perhatian yang lebih mengingat besarnya dampak yang ditimbulkan. Selain itu, posisi Indonesia yang berada di daerah pertemuan (zona konvergen) tiga lempeng yang dapat meningkatkan resiko terjadinya gempabumi.

Menurut BMKG Indonesia, gempabumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat adanya pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempabumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempabumi dan dapat terjadi di daratan maupun di dalam laut. Gempabumi dalam laut merupakan salah satu penyebab terkuat yang dapat membangkitkan tsunami. Namun, gempabumi yang dimaksud adalah yang memiliki titik pusat (episenter) di tengah laut yang biasa disebut dengan seaquake. Menurut catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi oleh Putranto (2009), pada rentang waktu 1629-2006, di Indonesia telah terjadi tsunami sebanyak 110 kali dari 186 jumlah kejadian gempabumi (Magnitude >6 SR). Oleh karena itu, jelas bahwa seaquakes merupakan salah satu ancaman terbesar bagi pesisir Indonesia.

Satu hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita, bagaimana dampak tsunami pada ekosistem dan biota dalam laut itu sendiri? Dampak yang kita lihat di daratan hanyalah sebagian kecil. Hancurnya berbagai infrastruktur buatan manusia ternyata hanya sebagian kecil dampak yang terlihat. Sebagai contoh: bagaimana tsunami mempengaruhi biota  laut; dan apa pengaruhnya pada keseluruhan ekosistem; serta, tahukah kita bahwa tingkah laku biota laut tertentu, misalnya mamalia laut ternyata dapat memprediksi akan terjadinya gempa bawah laut, sehingga dapat digunakan untuk mitigasi dini?

 

Dampak pada kestabilan wilayah pesisir

Kestabilan pada wilayah pesisir didukung oleh ekosistem yang sehat. Oleh karenanya, ekosistem pesisir memegang peranan penting baik dalam mitigasi awal maupun pada saat bencana. Sebelum terjadinya bencana, ekosistem pesisir yang sehat dapat memberikan kehidupan bagi masyarakat pesisir. Ekosistem pesisir terdiri dari vegetasi pantai, tumbuhan laut (lamun), terumbu karang, serta ikan-ikan yang saling berhubungan satu sama lain. Masing-masing memiliki fungsi yang besar seperti melindungi pesisir dari angin laut, meredam gelombang laut, dan yang terpenting adalah sebagai sumber mata pencaharian masyarakat pesisir. Namun, apa yang terjadi pasca terjadinya tsunami pada ekosistem pesisir?

Tsunami dapat merusak seluruh ekosistem pesisir dan mengakibatkan kematian pada setiap biota yang berada di jalur propagasinya. Populasi vegetasi pantai, lamun, karang laut, serta ikan dapat menurun secara drastis pasca tsunami; lebih dari itu, perubahan iklim mikro di wilayah pesisir, penurunan tingkat produktivitas, serta terganggunya rantai makanan juga pasti terjadi.  Wilayah pesisir menjadi labil sebagaimana daerah yang tidak memiliki ekosistem pesisir.

Di sisi lain, tsunami dapat menjadi titik balik bagi daerah tertentu; diibaratkan seperti mesin komputer yang diinstall ulang, kembali seperti kondisi awal. Vegetasi pantai dan biota laut yang tidak bertahan hidup biasanya yang berada pada kondisi lemah, yaitu sudah tua atau terlalu muda. Oleh karena itu, yang tersisa adalah individu-individu terbaik dari masing-masing ekosistem pesisir. Selain itu, tsunami ternyata dapat membawa kesuburan pada lingkungan pesisir sehingga membuat daerah tersebut menjadi lebih baik untuk ditumbuhi vegetasi pantai dan biota laut.

 

Apakah mamalia laut ikut terancam oleh seaquake?

Setelah melakukan tindakan preventif, lalu bagaimana dengan peringatan dini terhadap bencana? Meskipun gempa laut dan tsunami seringkali tidak terdeteksi, beberapa hewan menunjukkan pola-pola tertentu terkait kebencanaan, yang kedepannya diharapkan dapat menjadi peringatan dini secara alami; hal ini tentunya menuntut penjelasan ilmiah yang didukung bukti konkret. Salah satu pola pada biota laut terjadi adalah pada mamalia laut. Mamalia laut, khususnya paus, adalah predator puncak di lautan dimana fungsinya sebagai pengendali rantai makanan dan penjaga kestabilan ekosistem. Dalam hal ini, mamalia laut bertindak sebagai indikator bencana di laut – seaquake maupun tsunami. Hal ini didukung oleh kemampuan mamalia laut dalam merasakan dinamika lingkungan disekitarnya. Spesies mamalia laut yang paling sensitif adalah paus sperma (Physeter macrocephalus); seaquake merupakan salah satu faktor alam yang tidak biasa terjadi namun memiliki kaitan yang erat dengan peristiwa terdampar paus sperma di Indonesia. Hal tersebut ditunjukkan dengan persentase sebesar hampir 90% dari peristiwa terdamparnya paus tersebut ternyata diawali oleh kejadian gempabumi bawah laut (magnitude 4-6 SR) dalam jarak waktu kurang dari 2 bulan.

Seorang Kapten Laut bernama Capt. David W. Williams dari Deafwhale Society menuliskan beberapa artikel mengenai kejadian terdamparnya mamalia laut terkait seaquakes. Dalam websitenya (www.deafwhale.com), dikatakan bahwa beberapa kejadian terdamparnya mamalia laut disebabkan oleh hilangnya kemampuan navigasi yang rusak akibat adanya peningkatan tekanan secara tiba-tiba pada bagian tubuh hewan, khususnya bagian kepala. Hal tersebut dapat terjadi pada saat hewan tersebut melakukan deep-diving untuk mencari mangsa hingga kedalaman ratusan meter.

Apakah mamalia laut tidak dapat mendeteksi suara yang dihasilkan oleh seaquakes? Jawaban dari pertanyaan itu adalah ya, bisa. Namun, hanya terbatas pada gempa dengan kekuatan yang besar serta kedalaman gempa (focal depth) yang dekat dengan permukaan dasar laut saja. Sebaliknya, gempa dengan kekuatan relatif kecil, yaitu 4-6 SR, dan getaran dari gesekan lempeng lempeng lebih dalam dari 20 km di bawah dasar laut ternyata hampir tidak terdeteksi oleh mamalia; terlebih lagi pada saat mamalia berada di sekitar permukaan laut. Oleh karena itu, justru jarang ditemukan kejadian terdamparnya mamalia laut apabila terjadi gempa yang kuat atau gempa yang dapat membangkitkan tsunami.

Hanya terdapat 4 peristiwa dari total 21 kejadian terdamparnya paus sperma di Indonesia yang tidak diikuti oleh kejadian gempa bawah laut sebelumnya, yaitu di Bekasi, Maratua Berau (Kalimantan), Raja Ampat and Sorong (West Papua) (Ichsan dkk, 2014; Whale Stranding Indonesia 2013). Dengan adanya bukti-bukti tersebut, peranan mamalia laut ini tentuna layak dipelajari untuk antisipasi bencana gempabumi dalam laut dan tsunami.

 

Mitigasi di Indonesia

Mitigasi adalah sebuah upaya meminimalisir dampak bencana. Mitigasi bukanlah sebuah strategi akhir, namun diperlukan agar resiko dan dampak yang terjadi dapat ditekan. Untuk itu diperlukan berbagai bentuk pendekatan dalam menetapkan strategi mitigasi. Khusus di Indonesia, terdapat satu program mitigasi tsunami yang dapat memberikan peringatan dini, yaitu INA-TEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System). Program tersebut dibuat pada tahun 2005 atas kerjasama dari beberapa instansi pemerintah maupun swasta, serta dukungan dari luar negeri (Jerman dan Amerika Serikat).

Pada pelaksanaannya, INA-TEWS membutuhkan bagian terpenting dalam memberikan informasi, yaitu data. Oleh karena itu, terus dilakukan pengembangan dari segi kualitas maupun kuantitas dalam hal observasi. Pada konteks seaquakes dan tsunami, maka alat ukur yang berperan penting adalah seismograf (pengukur getaran gempabumi), tide gauge dan buoy (pengukur tinggi muka laut), serta satelit untuk menerima dan menyebarkan informasi. Saat ini sudah tersebar sebanyak 160 seismograf dan 130 tide gauge (pengukur pasang-surut) di berbagai daerah di Indonesia, yang dipasang oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Bakosurtanal. Hal tersebut juga didukung dengan sebuah satelit bernama Garuda-1 yang dikembangkan oleh Asia Cellular Satellite (ACeS) bersama Telkom Indonesia.

Selama pelaksanaannya, INA-TEWS semakin berkembang dalam hal kecepatan pemberian informasi peringatan dini. Dengan sistem yang ada saat ini, peringatan dini tsunami dapat kita ketahui dalam waktu kurang dari 5 menit pasca terjadinya seaquake. Hal tersebut juga didukung oleh peningkatan kualitas hasil model agar informasi yang diberikan lebih akurat. Kemudian dibutuhkan waktu sekitar 5 menit lagi untuk proses penyebaran informasi ke daerah-daerah yang diperkirakan terpengaruhi oleh gempa tersebut. Maka, dengan kecepatan gelombang tsunami yang bervariasi antara 10-45 menit dari episenter, INA-TEWS diharapkan dapat lebih siap dalam memberikan peringatan dini untuk meminimalisir dampak Tsunami.

Pada akhirnya, seaquakes merupakan ancaman nyata yang dapat mengakibatkan kematian, tidak hanya pada manusia namun juga makhluk hidup lainnya, seperti vegetasi pantai, terumbu karang, ikan-ikan, dan juga mamalia laut. Segala usaha yang dapat dilakukan untuk meminimalisir bencana tersebut akan dikembalikan lagi kepada seberapa besar niat kita, seberapa unggul kita dalam merancang sistem dan alat, namun pada akhirnya kita hanya dapat berharap yang terbaik pada Tuhan Yang Maha Esa.  

Related