Pendidikan Efektif Berbasis “Siap Didik”

Author: Randy Tenderan

shadow

(Ilustrasi: pexels.com)

Jika membahas tentang pola pendidikan formal di Indonesia dan keterkaitannya dengan kualitas SDM, terdapat dua hal yang rasanya patut untuk disoroti, pertama berkaitan dengan kesiapan dari peserta didik dan yang kedua adalah efektifitas pendidikan itu sendiri. Tentunya di samping masalah-masalah teknis seperti pemerataan pendidikan, kualitas guru, fasilitas belajar-mengajar, dan infrastruktur pendukung lainnya. Yang lebih disoroti dalam tulisan ini adalah ide besar dari pola pendidikan di Indonesia. Setiap Negara tentunya punya kondisi dan tantangan yang berbeda-beda, sehingga kebutuhan akan pendidikan juga bisa jadi berbeda, kita tentunya tidak bisa dengan mudah hanya mencaplok pola pendidikan yang diterapkan di Negara maju, karena tentunya Negara berkembang seperti Indonesia dengan segala keunikannya membutuhkan pola pendidikan khusus untuk menjawab tantangan yang dihadapi.

 

Proses belajar-mengajar adalah interaksi antara pengajar dan peserta didik, dalam proses interaksi tentunya kedua belah pihak memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin proses tersebut berjalan dengan lancar. Pengajar atau guru selama ini seolah mendapat sorotan yang sangat tajam, berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru di Indonesia, namun pihak yang satunya lagi, yaitu peserta didik, seolah tidak menjadi perhatian sama sekali. Guru seolah diberi tanggungjawab sangat besar untuk menjamin muridnya berhasil, tanpa melihat kesiapan dari para siswa itu sendiri, dan ketika murid gagal maka guru yang disalahkan, kualitas sekolah sering kali hanya dilihat dari persentase kelulusan siswa di ujian nasional. Kita seolah lupa bahwa dalam interaksi, kegagalan yang terjadi tidak mungkin hanya berasal dari satu pihak saja, kedua belah pihak pasti punya porsi kesalahannya masing-masing. Pendidikan efektif berbasis “siap didik” tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan kualitas guru saja sebagai pengajar tapi juga kesiapan siswa untuk menerima pelajaran.

 

Efektifitas pendidikan juga menjadi sorotan, kurikulum pendidikan Indonesia harus diakui terlalu gemuk dengan pelajaran yang sangat banyak, dan cenderung tidak efektif. Kita dituntut untuk menyelesaikan pendidikan hingga ke tingkat sekolah menengah atas, dimana porsi pelajaran yang diberikan semakin sulit dan semakin melebar, kemudian setelah masuk ke perguruan tinggi, pada siswa seolah harus langsung banting stir dari pola pendidikan yang lebar menjadi fokus ke satu bidang. Seorang penyanyi seharusnya tidak perlu susah-susah belajar tentang kalkulus, hukum gravitasi, optik, organ tubuh, reaksi kimia, demikian pula seorang dokter tidak perlu fokus memperlajari geografi, ekonomi, belajar musik, melukis. Pola pendidikan yang melebar seperti ini, selain menyulitkan siswa saat harus fokus mendalami satu bidang di perguruan tinggi, juga hanya membentuk orang-orang Indonesia menjadi tipikal orang yang “tahu banyak hal tapi hanya sedikit”, guyonan untuk orang dengan tipikal seperti ini adalah mereka ahli dalam mengisi TTS (teka-teki silang) karena pengetahuannya sangat luas namun dangkal. Untuk membentuk SDM berkualitas tinggi, pendidikan seharusnya diarahkan untuk membentuk tipikal orang yang “hanya menguasai satu hal tapi sangat mendalam” dengan begitu kita bisa mencetak ilmuwan dan peneliti berbakat, olahragawan yang terampil, penyanyi luar biasa, ekonom handal, yang langsung siap terjun ke masyarakat setelah mereka lulus dari bangku kuliah, tentunya untuk berkontribusi dalam pembangunan Indonesia.

 

Dalam “Pendidikan Efektif Berbasis Siap Didik” diperlukan perombakan besar-besaran dalam pola pendidikan dasar dan menengah.

 

1.     Pendidikan Dasar: Pembentukan Karakter Siap Didik

Sudah saatnya pendidikan berubah haluan dari penyediaan pengajar yang handal ke penyediaan anak-anak yang siap dididik atau dibentuk. Pada pendidikan dasar ini, fokus harus diarahkan pada penanaman karakter-karakter siap didik, karakter yang perlu ditanamkan adalah:

Ø  Tekun

Ø  Disiplin

Ø  Mandiri

Ketiga karakter di atas adalah karakter dasar yang dibutuhkan untuk membentuk pribadi yang kompetitif, yang mampu bersaing di tengah derasnya perkembangan jaman dan menjamin tersedianya SDM yang berkualitas di Indonesia. Pada tahap ini, siswa juga diajarkan tentang ilmu-ilmu dasar seperti ilmu hitung, Bahasa (termasuk Bahasa internasional), agama sesuai keyakinan masing-masing, dan dasar-dasar kewarganegaraan. Namun porsi pelajaran yang diberikan tetap harus dibatasi dan tidak seberat porsi pelajaran di pendidikan dasar sekarang. Ilmu-ilmu dasar ini haruslah sebatas ilmu yang pasti akan digunakan apa pun profesi mereka kelak. Ilmu hitung tidak perlu hingga penguasaan rumus-rumus yang sulit dan siswa dipaksa untuk menghafalkannya, begitu juga dengan Bahasa, siswa tidak perlu dituntut untuk bisa berpidato atau menulis puisi, tidak semua siswa ingin menjadi sastrawan, dasar kewarganegaraan juga hanya sebatas pengetahuan, siswa tidak perlu dituntut menghafal nama-nama menteri apalagi undang-undang. Fokus pada tahap ini tentunya penanaman tiga karakter di atas, karakter dasar tersebut akan menjamin siswa mampu menjadi pribadi yang kompetitif apapun profesi yang mereka pilih.

2.     Pendidikan Menengah: Pendidikan Khusus Minat

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pendidikan yang terfokus harus diterapkan sejak dini. Pada tahap ini, siswa sudah memilih untuk menekuni minat tertentu sesuai dengan bakat dan kesukaannya. Tentunya tantangan akan muncul ketika siswa yang belum mampu memilih, cenderung untuk diarahkan oleh orang tua dalam memilih. Yah, itu merupakan tantangan yang tidak terelakkan di awal penerapan sistem ini, namun seiring dengan berjalannya waktu, seharusnya orang tua semakin sadar bahwa profesi apapun yang dipilih oleh anak mereka, dalam pola pendidikan yang baru ini jika mampu diterapkan dengan benar, tentunya akan menjadikan anak-anak mereka individu yang berkualitas, peranan orang tua adalah dalam memberikan dukungan baik secara moril maupun materil kepada anak mereka. Dengan karakter siap didik yang dimiliki siswa, pada tahap ini para guru tentunya tidak sulit lagi untuk melakukan distribusi ilmu kepada siswa, dengan begitu pendidikan akan berjalan secara efektif.

Sudah saatnya pola pendidikan diubah dari yang “membentuk secara langsung” menjadi menyediakan sesuatu yang “siap dibentuk”. Penanaman karakter siap didik pada masa awal pendidikan, tidak menjamin siswa akan menjadi apa atau tidak menetapkan tujuan para siswa, melainkan hanya membukakan jalan untuk profesi apa pun yang kelak mereka pilih. Jika guru adalah gelas besar yang terisi air, dimana air adalah ilmu yang ia miliki, sedangkan siswa adalah gelas kecil yang “tertutup”, bagaimana mungkin proses distribusi ilmu bisa berjalan. Pendidikan berbasis siap didik harus mengambil peran dalam menyediakan gelas yang terbuka, yang siap menerima ilmu dan mampu mengembangkannya lebih jauh.

“Akuilah dengan yang putih bersih, bahwa kamu sanggup dan mesti belajar dari orang Barat. Tapi kamu jangan jadi peniru orang Barat, melainkan seorang murid dari Timur yang cerdas, suka memenuhi kemauan alam dan seterusnya dapat melebihi kepintaran guru-gurunya di Barat.”

—Tan Malaka

Oleh Randy Tenderan, Awardee LPDP PK 41

Related

There is no related article.