Wanita dan Pentingnya Pendidikan Lanjut

Author: Tri Hanifawati

shadow

(Ilustrasi: Pexels.com)

Di suatu kedai kopi pinggir jalan di luar kota Roma, seorang mucikari Albania membual “kubeli perempuan itu seharga $2500. Modalku balik dalam beberapa hari.” Kalimat itu sungguh sadis, saya kutip dari buku Natasha, karya Viktor Malarek [1]. Buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitian terhadap beberapa negara korban trafiking. Sungguh mencengangkan, trafiking manusia merupakan bisnis penghasil uang terbesar ketiga di dunia sesudah perdagangan gelap senjata dan obat-obat terlarang. Bisnis kejahatan terorganisir ini korban terbesarnya adalah wanita, baik dewasa maupun anak-anak.

Bagaimana dengan Indonesia? Laporan dari International Organization for Migration (IOM) menyebutkan, di tahun 2014 angka human trafficiking Indonesia menempati urutan terbesar diantara negara yang mengalami human trafficking [2]. Sebanyak 87,78% korban adalah wanita, yakni 73,49% dewasa dan 14,28% anak-anak. Sisanya 12,22% korban adalah pria, yakni 9,73% dewasa dan 2,50% anak-anak. Mereka mengalami eksploitasi tenaga kerja, tidak dirinci jenis eksploitasi yang dialami. Tahun 2014 ada >20 ribu kasus human trafiking WNI di Malaysia, angka ini belum ditambah kasus WNI di negara lain. Jumlah kasus trafiking yang ditangani setiap tahun tidak pernah kurang dari 18 ribu sehingga kasus human trafiking Indonesia disebut tertinggi se-Asia Timur dengan korban di luar ataupun dalam negeri [3]. Sayangnya tak banyak media nasional yang memberitakan seolah tak ada perhatian serius untuk isu ini.

Korban trafiking wanita umumnya dijerat melalui iklan-iklan lowongan kerja. Sebagian kecil diculik dari jalanan. Para wanita yang rerata lulusan SD atau sekolah menengah akan terpaksa atau sukarela mencari pekerjaan untuk membantu memberi makan orang tua dan adik-adiknya. Dalam kondisi mereka yang minim skill, pengetahuan, dan informasi, menjadi sasaran empuk para perekrut kerja “fiktif”. Maka ketika “dewa penyelamat” datang menawarkan berbagai pekerjaan seperti pengurus anak, pegawai hotel, model, pengurus rumah tangga, adopsi, atau bahkan melalui pencarian bakat, dengan mudah mereka tergiur.

Para perekrut selalu memberikan gambaran indah pekerjaan yang ditawarkan, terutama salary yang besar. Bagi para wanita lugu tersebut, tawaran itu tak hanya peluang emas namun juga mimpi untuk melihat keelokan negeri sebrang. Tanpa banyak pertimbangan, mereka langsung menyambutnya dan saat sudah berada di negeri yang dijanjikan mereka baru menyadari bahwa mereka dijebak dalam lingkaran setan. Mereka mendapati dirinya dipaksa untuk bekerja tanpa dibayar atau bekerja namun tak sesuai yang dijanjikan. Malarek [1] menemukan bahwa hampir semua korban trafiking wanita di dunia dipaksa untuk bekerja di industri seks. Tak ada jalan untuk pulang. Mereka diawasi, disekap, disiksa saat melawan atau dibunuh atau diancam keluarganya akan dibunuh jika mencoba kabur.

Jika ditelaah dari obyek trafiking baik nasional maupun internasional, maka akan ditemukan bahwa modus utama adalah mencari kerja. Kedua, mereka terjebak karena minimnya pengetahuan/skill/informasi karena rendahnya tingkat pendidikan, dan faktor rendahnya ekonomi keluarga. Fakta menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja wanita Indonesia selama periode 2010-2014 masih dibawah 50% (tabel 1). Lowongan kerja terdaftar belum memenuhi kebutuhan para pencari kerja. Pertanyaannya, kemanakah wanita yang tidak/belum terdaftar bekerja ini? Bisa jadi menganggur atau bekerja dalam lowongan kerja “fiktif” alias menjadi korban trafiking meski menurut Malarek [1] banyak lowongan kerja terdaftar yang menjadi modus perekrutan korban trafiking.

Tabel 1. Pencari kerja wanita terdaftar, lowongan kerja wanita, dan penyerapannya

Tahun

Pencari Kerja Terdaftar

Lowongan Kerja Terdaftar

Penempatan/Pemenuhan

% Penyerapan Tenaga Kerja

2010

1.217.524

694.538

476.509

39,14

2011*

429.912

203.870

143.856

33,46

2012

566.603

388.127

230.646

40,71

2013

510.966

321.835

211.914

41,47

2014

626.300

342.615

288.614

46,08

Sumber : BPS, 2016
*tahun 2011-2014 data di beberapa provinsi tidak tersedia

 

Rendahnya penyerapan tenaga kerja wanita selain disebabkan terbatasnya jumlah lowongan kerja juga rendahnya skill dan knowledge sehingga mereka tak mampu menciptakan alternatif pekerjaan. Jumlah wanita pemilik ijazah dari jenjang SD sampai perguruan tinggi dalam kurun lima tahun terakhir belum menunjukkan kenaikan berarti (tabel 2). Dalam kurun waktu tersebut, wanita berumur 10 tahun ke atas yang tidak/belum memiliki ijazah hanya mengalami penurunan sebanyak 2,69%, SD/MI sebesar 1,95%. Wanita pemilik ijazah SMP/MTs hanya mengalami kenaikan sebesar 0,98%, SMU/MA 2,73%; DI/DII 0,33%; perguruan tinggi lainnya hanya mengalami kenaikan lambat sebesar 1,51%. Ijazah/STTB ini pada umumnya digunakan untuk melamar pekerjaan.

Tabel 2. Persentase wanita berumur 10 tahun ke atas yang memiliki ijazah/STTB tertinggi

Ijazah/STTB tertinggi yang dimilik

2009

2010

2011

2012

2013

2014

Tidak Memiliki Ijazah

29.71

27.81

28.52

27.66

27.86

27.02

SD/MI

30.53

30.69

29.98

29.49

29.21

28.58

SMP/MTs

17.18

17.71

18.01

18.28

17.79

18.16

SMU/MA

12.84

14.04

13.47

14.47

14.80

15.21

SMK

4.32

3.90

4.14

3.99

4.22

4.42

DI/DII

0.94

0.95

0.83

0.73

0.64

0.61

Akademi/DIII/DIV/S1/S2/S3

4.50

4.89

5.05

5.38

5.49

6.01

Jumlah

100

100

100

100

100

100

Sumber: BPS, 2016

Sampai tahun 2015 (tabel 3) mayoritas wanita Indonesia berumur 15 tahun ke atas masih tamatan SD/sederajat (27,87%), kemudian SMA/sederajat (21,77%), dan SMP/sederajat (20,9%). Adapun tamatan perguruan tinggi jumlahnya hanya 7,92%. Tidak dirinci berapa jumlah untuk akademi, diploma, S1, S2, atau S3. Tingkat pendidikan masyarakat yang tinggal di desa lebih rendah daripada masyarakat kota. Mayoritas masyarakat desa adalah tamatan SD (33,97%), SMP/sederajat (20,35%), SMA/sederajat (12,82%), dan hanya 3,86% saja yang mampu menamatkan sampai jenjang perguruan tinggi.

Tabel 3. Persentasi jenjang pendidikan terakhir wanita berumur 15 tahun ke atas di desa dan kota tahun 2015

Daerah Tempat Tinggal

Tidak/Belum Pernah Sekolah

Belum Tamat SD

SD/ Sederajat

SMP/ Sederajat

SMA/ Sederajat

Perguruan Tinggi

Jumlah

Perkotaan

4,88

9,47

22,02

21,48

30,34

11,80

100,00

Pedesaan

11,38

17,61

33,97

20,35

12,82

3,86

100,00

Kota + Desa

8,06

13,45

27,87

20,93

21,77

7,92

100,00

Sumber: BPS, 2016

Hasil penelitian tesis saya terhadap 400 responden menunjukkan bahwa tingkat pendapatan tamatan perguruan tinggi lebih tinggi daripada tamatan SMA/sederajat. Meski tidak selalu masyarakat berpendidikan lebih tinggi berpendapatan lebih tinggi. Namun demikian, wanita berpendidikan lebih tinggi memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan dan berpendapatan lebih tinggi. Data BPS menunjukkan angka pengangguran terbuka wanita tamatan perguruan tinggi lebih rendah daripada tamatan pendidikan menengah. Tingkat pengangguran terbuka wanita tamatan akademi/diploma sebesar 3,33% dan universitas 8,64%. Angka pengangguran wanita tertinggi didominasi oleh tamatan SMA 30,16%; SMK 20,17%; serta SMP dan dibawahnya sebesar 37,11%.

Dari gambaran diatas dapat disimpulkan bahwa tantangan utama wanita Indonesia dan secara umum masyarakat Indonesia saat ini adalah kebodohan. Saya lebih sepakat jika kebodohanlah yang mendekatkan masyarakat pada kemiskinan. Kebodohan menjadikan bangsa kita terbelakang, mudah ditipu daya, dan mudah dipecah belah. Tak syak lagi bahwa pendidikan lanjut merupakan jalan utama untuk menaklukan kebodohan. Memang sekolah tinggi tidak menjamin seorang wanita sukses bekerja, namun sekolah tinggi memberikan peluang lebih besar untuk mereka menjadi lebih cerdas dan meng-create kesuksesannya. Dan perlu diingat bahwa pendidikan bagi wanita bukan hanya sebagai modal mencari kerja tetapi juga modal menjadi ibu, istri, dan berkontribusi di masyarakat seperti mengajar para wanita yang kurang beruntung dalam pendidikan, bergabung pada lembaga/organisasi pendidikan, sosial, ekonomi, pertanian, atau memberikan pelayanan umum.

Indonesia diakui unggul dalam jumlah SDM, 250 juta jiwa merupakan aset yang sangat berharga untuk masa depan bangsa yang lebih baik. Hanya saja kuantitas ini tak ada artinya jika mayoritas masyarakat dalam kebodohan. Perlu upaya serius dari berbagai stakeholder untuk mendorong pendidikan lanjut minimal sampai jenjang akademi, diploma, atau strata satu. Lestari [4] menemukan bahwa angka partisipasi sekolah dan putus sekolah tingkat dasar dan menengah pertama dipengaruhi oleh aspek sekolah, yakni rasio guru murid dan jumlah sekolah; serta aspek karakteristik daerah. Artinya penting bagi pemerintah untuk meningkatkan sarana, prasarana, fasilitas, beasiswa dan pendidikan gratis, termasuk meningkatkan jumlah tenaga pendidik dan memberikan penghargaan yang layak kepada pendidik untuk mendorong tingkat pendidikan lanjut terutama di pedesaan. Kedua, sukses tidaknya pendidikan seseorang ditentukan oleh kuatnya sistem pendidikan dalam membentuk aspek knowledge, attitude, dan skill peserta didik; dan tentu ditentukan juga oleh kuatnya motivasi peserta didik untuk kreatif mengembangkan diri seperti aktif berorganisasi, pertemuan ilmiah, dan memegang idealisme atau nilai-nilai.

Penulis: Tri Hanifawati
Alumni Awardee LPDP PK-3 Program Magister Dalam Negeri, UGM
Dosen Tetap Prodi Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Bandung

Referensi :

[1] Malareek, Viktor. 2008. Natasha Mengungkap Perdagangan Seks Dunia. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta

[2] Deny, Septian. 2015. http://news.liputan6.com/read/2249883/catatan-iom-human-trafficking-paling-banyak-terjadi-di-indonesia. Diakses 20 Juni 2016.

[3] Sulistiyawati, Laeni. 2016.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/04/16/nmwh5f-kasus-perdagangan-manusia-indonesia-tertinggi-di-asia-timur. Diakses 20 Juni 2016.

[4] Lestari, Niken Ajeng. 2014. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Partisipasi Sekolah Serta Angka Putus Sekolah Tingkat Dasar dan Sekolah Menengah Pertama : Data Panel 33 Provinsi di Indonesia Tahun 2006 Hingga 2011. Abstrak Tesis. Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, UGM.

Related

There is no related article.