Menanti arah dan Kebijakan ekonomi Trump

Author: Safri Halding

shadow

*) oleh Safri Haliding, Analis Perusahaan Investment & Venture Capital, Komite Ekonomi Mata Garuda Institute

Donald Trump dari Partai Republik terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) dengan mengungguli Hillary R Clinton dari Partai Demokrat. Sungguh jauh dari prediksi berbagai survei dan jajak pendapat yang memprediksi Hillary Clinton akan keluar sebagai pemenang. Pasar juga lebih menghendaki Hillary yang menang atas program ekonomi dan kebijakan luar negerinya yang lebih kondusif terhadap iklim usaha dan investasi bagi dalam negeri AS maupun ekonomi global.

Kemenangan Trump mengingatkan pada hasil referendum rakyat Inggris untuk keluar dari Uni Eropa yang juga di luar dari perkiraan dimana rakyat Inggris memilih keluar dari Uni Eropa (Brexit) yang berdampak pada reaksi negatif pasar dan gejolak ekonomi dunia. Sama halnya dengan Terpilihnya Trump, pasar merespon dengan negatif dimana pasar saham di AS dan Asia-Pacific termasuk Indonesia anjlok.

Sementara pada pasar valuta asing (forex)  nilai mata uang dollar AS (US$) juga anjlok terhadap uang asing utama lainnya, hal tersebut juga berdampak pada nilai tukar mata uang emerging economies salah satunya Indonesia (rupiah) juga mengalami koreksi di pasar spot.

Arah dan kebijakan

Arah dan kebijakan ekonomi Trump akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi nasional, sebagaimana hubungan dagang AS dengan Indonesia yang sangat besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, AS menjadi negara tujuan ekspor teratas Indonesia bersama dengan Jepang dan China. Ekspor nonmigas ke AS pada September 2016 menjadi yang terbesar, yakni mencapai US$ 13,6 miliar. Sementara pada 2015, BPS mencatat kontribusi terbesar ekspor Indonesia adalah Jepang dengan kontribusi 11,9%, disusul oleh Amerika Serikat dan Tiongkok di peringkat kedua dan ketiga dengan kontribusi masing-masing 10,80% dan 10,01%.

Program ekonomi Trump pada perdagangan internasional yang menolak segala bentuk perdagangan bebas dan internasional serta melakukan proteksi ekonomi akan membuat ekspor ke AS semakin sulit. Rencana Trump yang akan bersikap agresif pada negara-negara yang membayangi ekonomi AS dalam perdagangan internasional, di antaranya China, Jepang, Meksiko, dan Korea Selatan akan berdampak pertumbuhan perekonomian negara tersebut.

Selain itu, langkah Trump yang akan mengenakan tarif masuk produk China dan Meksiko masing-masing sebesar 40% dan 35% ke pasar AS akan berdampak pada ekonomi dalam negeri, khususnya bagi para pengusaha lokal yang mengekspor bahan baku ke China dan Meksiko sebagaimana barang China yang masuk AS juga mengandung unsur bahan baku dari Indonesia. Jika produk dari kedua negara itu dikenakan tarif impor tinggi, kemungkinan besar produk dari negara lain juga naik, termasuk Indonesia. Visi Trump di bidang perdagangan internasional bisa memicu "perang dagang" yang akan berdampak pada pasar ekspor dunia, sehingga mengakibatkan perlambatan ekonomi global.

Di sisi lain, investasi AS ke Indonesia cukup besar. Berdasarkan data BKPM pada 2015, nilai realisasi investasi AS mencapai US$ 893 juta terdiri dari 261 proyek dengan didominasi oleh sektor-sektor pertambangan. Dari sisi komitmen, mencapai US$ 4,8 miliar terdiri dari 76 proyek. Arah dan kebijakan ekonomi Trump selanjutnya akan menentukan kerjasama, realisasi dan komitmen investasi lebih lanjut AS kepada Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah, pelaku usaha,  asosiasi, otoritas makroprudensial (BI) dan mikroprudensial (OJK) serta stakeholders terkait harus mempersiapkan berbagai langkah strategis dan skenario serta simulasi dari kebijakan ekonomi Trump baik yang langsung maupun tidak langsung kepada ekonomi dalam negari.

Meskipun sebenarnya dana asing dari AS masih besar potensi masuk ke dalam negeri karena dibandingkan Jepang dan negara Uni Eropa yang memberlakukan kebijakan interest rate negatif, Indonesia masih menarik dan menguntungkan sebagai emerging market.

Namun jika Trump merealisasikan keputusan anti perdagangan internasional dampaknya akan sangat besar pada ekonomi global, yakni berpotensi pada ketidakpastian ekonomi global dan bisa memicu krisis dan biayanya akan sangat besar.

Ironi masa depan globalisasi

Fenomena kemenangan Trump dan Brexit menjadi signal bahwa program globalisasi meskipun telah mendorong pertumbuhan ekonomi yang pesat di dunia khususnya negara maju, namun juga penyebab kesenjangan antara negara kaya dan negara miskin semakin lebar karena globalisasi memaksa negara berkembang (miskin) bersaing tidak “fair” dengan negara maju.

Selain itu, arus barang dan manusia yang bebas masuk ke berbagai negara atas program free trade dan globalisasi juga semakin memperlebar jurang kesenjangan dan kemiskinan penduduk karena globalisasi hanya menguntungkan bagi kalangan masyarakat yang mampu mengikuti perkembangan arus globalisasi seperti pelajar, pengusaha besar, dan pemerintahan. Sementara kalangan masyarakat yang kurang berpendidikan, kelas bawah, pelaku usaha mikro dan penduduk pinggiran tidak dapat bersaing.

Akibatnya, fenomena Brexit dan Trump yang membela nasib dan proteksi atas ketidakadilan globalisasi dan free trade pada mereka menjadi “angin surga”. Kesenjangan dan kemiskinan merupakan pekerjaan rumah globalisasi dan perdagangan bebas.

Bercermin dari kasus Brexit dan Trump, ASEAN yang sedang memasuki awal program Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) harus merespon berbagai isu kesejangan, kemiskinan dan arus masuk imigran (tenaga kerja) di antara negara anggota ASEAN dengan mencari solusi dan formulasi yang sesuai dengan karakter, budaya dan demografi ASEAN sebelum kejadian Brexit dan fenomena Trump terulang.

Diterbitkan di Kontan, Rabu 16 November 2016
Ilustrasi dari kontan.co.id

Related

Keuangan Syariah Yang Inklusif
Keuangan Syariah Yang Inklusif

Pengawasan Tenaga Kerja Asing
Pengawasan Tenaga Kerja Asing

Menjaga Keseimbangan Impor
Menjaga Keseimbangan Impor

Memacu Kembali Hilirisasi Industri
Memacu Kembali Hilirisasi Industri