Pendidikan Berkarakter Berlandasi BIOPSIKOSOSIOKULTURAL

Author: Zulmi Ramdani

Sebagai salah satu unsur penunjang kehidupan yang esensial, aspek pendidikan mendapatkan porsi yang sangat besar dalam mencapai tujuan menuju bangsa yang mandiri. Secara tegas tujuan diselenggarakannya  pendidikan nasional tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 (dalam Mursidin : Moral Sumber Pendidikan, 2011 hal 14), dimana salah satu isinya menjelaskan tentang pentingnya pendidikan nasional dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Usaha-usaha konkreat yang dilakukan oleh pemerintah sebagai lembaga yang paling bertanggungjawab dalam menjalankan dan mendukung cita-cita tersebut sudah menunjukan kemajuan yang signifikan, tidak hanya dalam aspek material hingga pemerataan pendidikan di berbagai wilayah di tanah air, tetapi juga dalam dimensi yang lebih individual meliputi program-program pelatihan guru, manifestasi kurikulum yang beragam, sampai dengan munculnya konsep character building, yang sifatnya sudah sangat spesifik dan harapannya bukan lagi pada aspek yang secara formal dapat diukur, lebih jauhnya dapat menciptakan sebuah kekuatan karakter dalam setiap pribadi generasi muda.

Isu mengenai Character Building (pembangunan karakter) telah mengalami perubahan yang begitu cepat. Hal ini dapat dilihat dari munculnya kebijakan pemerintah dalam kaitannya dengan pelaksanaan kurikulum 2013, yang dalam penerapannya pendidikan bukan lagi mengasa pada penilaian akademik (scientific) semata tetapi juga banyak faktor yang mencakup aspek autentik. Secara konseptual, kebijakan kurikulum ini mengedepankan unsur individual peserta didik yang harus menjadi bahan pertimbangan pendidik dalam menyampaikan informasi terkait ilmu dan kependidikan.

Pada pelaksanaannya hanya sedikit lembaga-lembaga pendidikan yang ikut serta dalam menggunakan kurikulum yang bisa dibilang kurikulum karakter ini. Banyak faktor yang menjadi kendala dalam manifestasinya, salah satunya adalah kemampuan pendidik dalam mengetahui dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh peserta didik dalam rangka mewujudkan individu yang berkarakter. Sebagaimana yang diketahui bahwasannya peserta didik adalah mereka individu-individu aktif dengan beragam latarbelakang meliputi kualitas fisik, kognitif, dan sosioemosional. Sehingga bukan hal yang mudah untuk memberikan suatu pengajaran yang sama pada individu yang berbeda.

Mengacu pada konsep kekuatan karakter (Peterson & Seligman, 2004) , bahwa setiap individu memiliki unsur psikologis yang membentuk kebajikan, sehingga kekuatan ini akan dibawa oleh anak dalam menentukan perilakunya dalam lingkungan. Hal ini, sekiranya harus menjadi indikator yang akan dapat dilihat dengan cermat oleh pendidik dalam rangka memberikan pengajaran yang efektif dan efisien berdasarkan apa yang ditunjukan oleh anak sebagai bagian dari kelebihan dan keterbatasannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan suatu skema penilaian yang sifatnya holistik. Dalam hal ini mempertimbangkan aspek-aspek terdahulu ataupun sekarang yang dibawa oleh anak ke dalam lingkungan belajar mereka.

Untuk menciptakan sistem pendidikan karakter yang benar-benar dapat merepresantatifkan keunggulan generasi Indonesia saat ini, sistem harus mempertimbangkan heterogenitas dari individu itu sendiri. Karena yang akan dibangun ini adalah suatu karakter yang secara jelas didapatkan oleh anak bukan dari pendidikan formal ataupun dari serangkaian ujian dan penilaian akademis, melainkan dari hasil proses belajar mereka dari lingkungan. Lingkungan tersebut bisa berasal dari penanaman nilai oleh orang tua mereka ataupun interaksi mereka sendiri terhadap hal-hal yang mereka dapatkan ketika masa keemasan (Golden Age).

Penting sekali untuk mempertimbangkan aspek individualistik pada diri anak. Dalam aspek biologis, setiap anak diwarisi oleh kualitas yang diperoleh dari orang tuanya. Memungkinkan jika orang tua mempunyai karakter seorang penyabar maka anak pun setidaknya pernah mendapatkan pengajaran dari seorang penyabar. Ini tentunya akan berdampak pada keseimbangan biologis tubuhnya dan ikut menentukan sejauhmana anak mampu menghadapi lingkungannya. Contoh lain dalam perilaku memenuhi kebutuhan biologisnya akan lapar, anak-anak yang dibesarkan dengan mendapatkan cakupan energi dari makanan yang bersifat nabati terkadang perilakunya bisa lebih adaptif dibanding dengan mereka yang kebanyakan mendapatkan unsur makanan hewani. Asumsi seperti ini sudah banyak dikemukan oleh mereka para pakar gizi dan nutrisionis.

 Ketika seorang anak masuk ke dalam kelas, banyak kemungkinan yang akan terjadi berkenaan dengan kondisi psikologisnya. Saat guru menyajikan suatu materi yang disampaikan dengan santai dan penuh tawa, seringkali yang terjadi ada juga anak yang senantiasa diam, ada yang mungkin fokusnya teralihkan, atau ada juga yang merespon dengan sangat berlebihan. Itu menjadi ciri umum dari pada kondisi psikologis. Salah satunya mungkin adalah mengenai mood (suasana hati). Kondisi ini mau tidak mau harus menjadi bahan pertimbangan pendidik ketika akan mengajarkan materi yang tujuannya melatih kepekaan anak dalam merasakan tema-tema kemanusian yang disampaikan oleh guru.

Pada dimensi sosiokultural, karakter dibangun dari interaksi dengan lingkungan. Ketika individu mendapatkan lingkungan yang baik dan mendukung terhadap identitas seorang anak, maka dalam hal ini aspek sosiokultural menjadi sangat penting. Individu yang dibesarkan dalam lingkungan sosial seperti latarbelakang orang tua, kondisi dimana mereka tinggal, serta dengan siapa saja mereka tinggal dan berinteraksi akan membentuk karakter individu tersebut.

Seorang anak yang biasa bersalaman dengan orang yang lebih tua dengannya akan memungkinkan menunjukan perilaku yang sama pada gurunya di sekolah. Ada anak yang pergi ke sekolah dengan kondisi pakaian yang tidak rapih dan sangat tidak nyaman untuk didekati, apakah seorang guru harus membiarkannya dan menempatkannya pada posisi paling belakang di kelas dengan tujuan agar tidak mengganggu teman-temannya yang lain. Hal lainnya adalah berkenaan dengan dialex ataupun idialex yang dimiliki anak saat saling berkomunikasi dengan sebayanya (peer group) ataupun dengan gurunya. Mungkin saja anak dengan latarbelakang Jawa akan susah untuk berkomunikasi dengan temannya yang berasal dari Batak. Contoh-contoh demikian sudah jelas memperlihatkan bahwa karakteristik dari subjek yang akan dibangun bersifat heterogenistik.

Fakta-fakta tersebut nampaknya memberikan poin penting dalam rangka menciptakan pendidikan karakter yang sesuai. Dengan mempertimbangkan aspek-aspek individual yang dimiliki oleh peserta didik, pendidik dalam hal ini guru harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang komprehensif dalam menentukan setiap kebutuhan anak dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan karakternya. Sehingga dengan menyadari bahwa pentingnya memperhatikan aspek biopsikososiokultural yang dimiliki oleh anak, maka sistem pendidikan karakter pun bisa disesuaikan dengan tepat.

Kemampuan dalam mengidentifikasi seperti apa karakter yang dibutuhkan oleh peserta didik merupakan kunci dalam menciptakan sistem pengajaran yang sesuai. Guru adalah mereka yang akan secara langsung menjadi tokoh dalam membina dan membangun karakter anak di sekolah. Guru juga yang akan menjadi rekan anak dalam menyelesaikan permasalahannya. Sehingga pelatihan-pelatihan yang banyak dilakukan dalam meningkatkan kualitas guru pun harus difokuskan dalam  mengkaji aspek-aspek individual. Sehingga dengan demikian guru dapat bekerja sama dengan sekolah dan tentunya dengan pemerintah dalam memosisikan anak berdasarkan kemampuannya. Dengan hal ini, karakter yang akan dibangunpun disesuaikan dengan kapasitas mereka masing-masing.

Zulmi Ramdani, LPDP Afirmasi batch 4 Jurusan Psikologi UGM 2016

Related

There is no related article.